Batik Madura


Hanya tiga frase: ‘bagus-bagas, sogi-soga’, kerras-kerres’. Frase yang simplistis, mewakili karakter orang Madura: tegas, lugas, logis—dan, tidak setengah-setengah dalam mengambil keputusan. Karakter itu tertanam dalam hal apapun, termasuk dunia seni dan kerajinan. Salah satunya, seni-kerajinan batik. Maka, cara sederhana mengetahui karakter orang Madura, lihatlah motif batiknya. Motif batik Madura terlihat tegas, lugas dan berani. Warnanya pun cerah, dan tajam. Sebaliknya, untuk tahu motif batik Madura, maka ketahuilah karakter orang Madura.

Kerajinan batik bisa ditemukan dimana-mana. Hampir di seluruh Daerah di wilayah Nusantara. Batik sebagai salah satu kerajinan, dan kekayaan seni Indonesia. Memiliki motif yang beragam. UNESCO menetapkan batik Nusantara sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009—selanjutnya menjadi Hari Batik Nasional. Batik dituangkan di atas media, seperti kain, kayu, bambu, tempayan, dan sebagainya. Khusus untuk batik Madura, hanya dituangkan pada kain. Tidak pada tempayan, atau buluh-buluh bambu, sebagai seruling. Tidak juga pada papan datar, untuk hiasan dinding. Atau pada dinding-dinding kosong, yang memang tidak disediakan untuk itu. Batik Madura ada dan dikenal sejak sebelum Indonesia merdeka.

Batik Madura memiliki nilai seni dan sosial, dan sedikit nilai niaga. Dari proses, keduanya telah berbaur: seni dan sosial. Belakangan, setelah proses kedua nilai dilalui, muncul (terpikirkan) sisi niaganya. Para pembatik—yang kesemuanya perempuan Madura—memiliki ciptaannya sendiri, yang (sayangnya) tidak dipatenkan. Orang perseorangan perempuan pembatik tidak akan pernah meniru, menjiplak atau memplagiasi ciptaan orang lain. Para pembatik itu mandiri, dan berkreasi sendiri. Mereka bangga dengan kreasi sendiri. Hebatnya, mereka menganggap mencuri ide, apalagi model dan kreasi, tidak jauh beda dengan ‘mencuri’ dan hukumnya haram. Haram menurut fiqih, dan haram menurut komunikasi sosial.

Ada nilai sosial dari proses. Sejak memulai membatik, dan mencelupkan cantingnya, pembatik itu sudah melibatkan orang lain. Tukang meracik warna, dan sebelumnya, pembuat malam untuk dilukiskan pada skets-skets berwarna putih, juga orang atau pihak lain. Sebelumnya lagi, pembuat kain-kain primis, mori, sutera, rayon, atau yang lebih berkualitas dari itu, yang dibentangkan di atas balai-balai untuk kemudian dilukis, adalah pihak lain lagi. Selanjutnya, kain-kain putih berskets malam—lebih umum disebut batik setengah jadi—mengalami proses pewarnaan, orang lain pula. Banyak pihak yang terlibat, dan itu adalah deret sosial, yang berderet memenuhi lorong-lorong niaga.

Nilai niaga, adalah proses berikutnya. Pembatik memasarkannya, bisa langsung di pasar tradisional, atau pada pihak tertentu yang mengaku sebagai distributor, atau pengepul. Pembatik yang dimaksud di sini, bisa perajin yang melakukan serangkaian kerajinan batik: sejak dari mencanting malam, sampai proses pewarnaan. Bisa mungkin, hanya pada proses pewarnaan. Ada untung, setelah hitung sana-hitung sini. Tapi tidak banyak. Kepuasaan mereka bukan dari sisi untungnya, tapi setelah terjual. Itu artinya, kreasi mereka diminati orang. Konsumen oleh para pembatik dianggap telah mengapresiasi hasil karyanya. Makanya, jangan heran kalau harga batik di Madura tergolong sangat murah. Tidak sebanding dengan kerja mereka yang berhari-hari, bahkan hitungan bulan. Jadi, kerja mereka tidak dihitung sebagaimana orang kantoran, atau profesi jasa seperti tukang, sopir, dan lainnya. Kerja mereka dalam berkreasi, adalah ibadah—hanya mengharap ridlo Tuhan. Amin!

Pasar 17 Agustus, Minggu pagi—atau di hari lain: Kamis pagi. Di sebuah pasar batik, Pamekasan—bagian tengah Pulau Madura. Menempati ratusan kios, para pedagang memasarkan batik. Lebih dari 70% pedagang—lebih pas disebut penjual—batik, menjual batik hasil kreasinya sendiri. Hampir senada dengan manajemen dagang tukang bakso: membeli dan mengolah daging, lalu memasaknya, dan mendorong gerobak menjajakan masakannya. Jika ada untung-ruginya, dinikmati sendiri. Setara dengan perempuan pembatik: memilih kain, melukis skets sendiri, menorehkan malam, mewarnai, mengeringkannya dan bertemu pembeli di Pasar Minggu. Harga, tentu sangat murah, ketika belum sampai ke tangan pengepul.

Pamekasan terbilang kota batik. Di pasar itu, penjual batik menggelar jualannya. Di kios-kios, atau juga dijajakan langsung, batik kreasi mereka dijual murah. Seringkali, harga tidak sebanding dengan lama kerja mereka. Perlu diingat, batik tulis membutuhkan waktu agak lama dalam pengerjaannya dibanding batik cap, apalagi printing. Harga itu bukan berarti diobral, atau dijual rugi. Tapi, memang seharga itu yang ‘dilayakkan’. Para pembatik, atau penjual batik, tidak pandai memainkan strategi ekonomi. Mereka tidak bisa mempraktekkan marketing modern. Juga, mereka tidak bisa bermain hukum ekonomi yang dianggap ‘kotor’. Misalnya, menimbun di kala produktivitas batik tinggi, dan melepasnya saat permintaan banyak. Demand-suplai yang ‘ternoda’, bagi pembatik tidak barokah. Dan, itu tidak akan pernah dilakukan oleh perempuan-perempuan pembatik. Apalagi, semakin hari, jumlah hasil kerajinan mereka semakin bertambah.

Di Pasar Baru itu, penjual batik mulai menjajakan jualannya sejak matahari belum terbit, sekira kurang dari pukul 06.00 WIB. Mereka berdatangan dari berbagai desa—menyebar dari berbagai kecamatan. Tapi sentra yang banyak di Desa Klampar, Kecamatan Proppo. Mereka adalah pembatik, atau perajin batik. Sedangkan pengunjung berdatangan pada jam-jam itu. Pasar pagi, benar-benar pagi. Pasar tidak buka sehari. Siang, sekira kurang dari pukul 12.00 WIB, sudah tutup. Bahkan agak singkat lagi, ketika azan dluhur berkumandang, mereka mulai sibuk menutup kiosnya. Banyak di antara mereka yang buru-buru mau shalat jemaah di masjid.

Pasar 17, masih sangat layak disebut pasar tradisional. Tak ada mesin hitung, atau pencatat distribusi barang-uang keluar-masuk—semacam teler, kecuali (hanya) kalkulator sebagai mesin pembantu transaksi. Maka, juga tidak dikenal rabart, atau potongan harga sebagai ‘hadiah’ kepada pembeli. Sebab, harga sudah pas-pasan, yang kalau dikurangi lagi dari harga dasar yang ditawarkan penjual, untungnya pun sangat mepet. Sekali lagi, untungnya tidak sebanding dengan hitungan hari kerja mereka. Selembar kain batik, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, hanya ditawarkan ratusan ribu, bahkan (hanya) puluhan ribu rupiah. Di pasar tradisional itu, perputaran uang begitu cepat.

Tanjung Bumi, sebuah kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Bangkalan. Berada di posisi pantai utara Madura. Nama daerah itu menjadi nama khas batik ternama berkualitas tinggi: Batik Tanjung Bumi. Batik tanjung bumi ini berkualitas eksport–dikenal, dan tentu dipasarkan sampai ke negeri manca. Bahkan, seringkali identitas eksport identik dengan: bahan dasar dari luar negeri, kualitas sesuai permintaan pasar luar negeri, dikenal dan dipasarkan ke luar negeri. Dan, para perajin pun ‘mendadak’ menjadi profesi—tidak mudah ditiru orang lain.

Di Tanjung Bumi, tidak kurang dari 658 unit usaha batik. Jumlah yang tidak sedikit. Tersebar di 3 desa sentra kerajinan batik: Desa Telaga Biru, Paseseh dan Desa Tanjung Bumi. Jumlah perajinnya tidak kurang dari 1121 orang. Jurnlah itu be1um termasuk perajin di desa pengembang yang ada di sekitamya seperti Desa Bumi Anyar, Tambak Pocok dan Desa Bandang Dajah. Jumlah perajin yang tidak sedikit, setiap tahun semakin bertambah. Dorongan Pemerintah, lebih dari 50% dari jumlah penduduk terlibat dalam kerajinan batik.


Para pembatik, semuanya perempuan. Bukan tanpa sejarah, atau alam memang menciptakan sejarahnya sendiri: mengapa pembatik semuanya perempuan. Para lelaki, atau kepala keluarga, ‘wajib’ tidak di rumah, di dalam kamar yang pengap, yang meskipun ada udara yang menyelinap masuk lewat jendela, atau celah genting, masih belum mampu mengusir rasa pengap dalam nurani—atau setidaknya hati. Mereka mencari nafkah untuk keluarga, menjadi nelayan ataupun sebagai petani yang jam kerjanya siang hari. Isteri mereka menunggu di rumah. Sebuah kesetiaan yang tidak bisa dibanding-bandingkan dengan alam kota, atau suasana modern. Rasa sunyi di rumah itu harus diisi dengan kegiatan. Dan, kegiatan itu adalah membatik. Maka, ada pembagian tugas—mula-mula tidak distruktur seperti itu, tapi hanya sebuah kebetulan—laki-laki di luar, dan perempuan di dalam rumah. Jadilah Tanjung Bumi sebagai dunia batik, dunia yang penuh kreasi, dan dunia pengisi rasa sepi dan sunyi.

Perajin yang produktif akan menghasilkan lebih dari seribu lembar batik per tahunnya. Jika perajin yang produktif kurang dari 50% dari jumlah perajin, maka produksi batik tanjung bumi per tahunnya lebih dari setengah juta lembar. Sebuah angka produksi yang tidak sedikit. Kuantitas memang cukup memadai. Tapi, tantangannya,—biasanya kualitas dengan kuantitas selalu tidak imbang—kualitas. Dan, hukum ‘gengsi-style’ akan tetap memainkan peran yang tidak kecil. Bahwa, barang berkualitas akan terus diburu oleh kolektor, dan tentunya konsumen. Jika kita merujuk pada asumsi yang berkembang selama ini: barang berharga mahal pasti berkualitas baik. Padahal umumnya harga mahal karena terimbas prinsif ekonomi: demand-suplai.

Motif batik tanjung bumi beragam–dengan corak yang khas. Tentu, tidak lepas dari karakter orang Madura. Belasan macam motif jumlahnya. Tapi yang terkenal motif sibasi, palopa, gentongan, sekarjagat. Selebihnya, motif kreasi baru, yang kadang merupakan pengembangan dari motif yang ada. Kadang pula, motif kreasi baru untuk memenuhi selera konsumen. Motif lama, ataupun kreasi baru, sebenarnya hak cipta para perempuan pembatik itu. Sayangnya, sebagaimana di tempat lain, pembatik tidak mematenkan hasil ciptaannya. Dan ini—perlu diakui—menjadi motif yang ‘liar’, yang tidak ada pemiliknya secara sah. Meskipun sebenarnya pembatik tidak akan pernah mencuri motif ciptaan orang lain.

Gentongan—batik yang memiliki nilai mistis, dengan proses pembuatan yang tidak biasa: ritual, jampi-jampi, dan doa. Waktu melakukan ritual pun hanya malam Jumat Legi. Dibuat oleh laki-laki. Hukumnya, ‘haram’ bagi perempuan haid melakukan proses perendaman. Hanya ada di Desa Telaga Biru dan Sereseh, Kecamatan Tanjung Bumi. Diyakini, pemakai batik gentongan akan memiliki aura tersendiri—konon dipercaya menambah kharisma, kecantikan dan kelembutan, yang hanya dimiliki oleh para puteri keraton. Maka, batik gentongan adalah persembahan ‘cinta’ laki-laki kepada pujaannya.

Dan,. gentongan sebuah motif batik khas Tanjung Bumi yang qou internasional. Dalam proses pembuatannya, membutuhkan waktu lebih dari 8 bulan. Pewarnaannya, dengan teknik direndam dalam gentong—tempat air minum mirip guci yang terbuat dari tanah liat. Bernama gentongan karena direndam dalam gentong, selama 41 hari. Diberi jampi-jampi, dan ritual khusus—upacara khusus batik gentongan yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena prosesnya lama maka kualitas kain sebagai media dipilih khusus. Tentu kuat, bertahan dari rendaman. Pewarnaannya pun tidak mudah, dengan motif yang rumit. Perempuan yang lagi menstruasi ‘dilarang’ melakukan ritual itu. Bahkan juga dilarang mengerjakan perendaman batik gentongan. Maka, jangan heran, jika harga batik gentongan mencapai jutaan rupiah.

Dulu, pengerjaan batik gentongan: dari kettel, memalam skets sampai perendaman dan ritual, dikerjakan oleh laki-laki. Laki-laki sebagai pembatik, memiliki sejarahnya sendiri. Mula-mula, remaja laki-laki yang hendak bertunangan, atau mungkin masih bersiap menyunting gadis pilihan, sebelumnya harus menyiapkan segala sesuatunya. Satu di antara segala sesuatunya adalah hadiah untuk gadis pujaan, dan itu bernama batik gentongan. Karena sebagai hadiah untuk orang yang sangat dipuja, pembatik remaja laki-laki itu harus memilih sedetil mungkin kualitas bahan. Dari kain, yang tentunya kain pilihan yang tahan terhadap rendaman, tiupan angin dan sengatan matahari. Skets yang rumit, dan jlimet. Juga pewarnaan yang berulang, dengan kualitas warna di atas segalanya. Direndam, lalu menjalani ritual dengan jampi dan doa.

Kadang pula batik gentongan dihadiahkan untuk isteri, bagi laki-laki berkeluarga. Juga, dulu, dikerjakan oleh laki-laki (suami). Bahkan, sejak pemilihan kain dasar, sampai pewarnaan dan ritual, semuanya dikerjakan oleh laki-laki. Maka, batik gentongan cenderung (hanya) sebagai ‘pusaka’ –yang tidak dipotong sebagaimana layaknya jenis batik lain, menjadi baju atau pakaian. Batik gentongan hanya sebagai sarung (sampir) dan selendang—yang tidak bersentuhan dengan jahitan.

Kualitas warna batik gentongan memang jauh berbeda dengan batik biasa. Warna lebih ‘garing’ dan ‘angker’. Juga lebih tebal karena melalui berkali-kali pewarnaan. Motif lebih rumit, dan membutuhkan ketelitian khusus. Warna yang dicelupkan ke dalam air dalam gentong, sebenarnya berupa daun dari tanaman lokal, yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Orang setempat menyebutnya daun tarom, berwarna hijau. Daun itu ditumbuk, diambil air perasaannya. Hasil perasan daun itu dicampurkan ke dalam air, dan jadilah hitam. Lalu, kain batik yang sudah bermotif dimasukkan ke dalam gentong. Direndam berhari-hari—setidaknya sehari semalam. Jika diikuti ritual, dan untuk menghasilkan warna batik yang ‘garing’, rendaman sampai 41 hari lamanya. Oleh karena proses tersebut, warna-warna batik gentong itu tampak lebih tua, dan sebagian hitam agak kebiruan. Warna yang klasik.

Dulu, batik gentongan memang bukan untuk industri; tidak dijual untuk umum. Tapi untuk dipakai sendiri. Maka, dibuat khusus, sesuai dengan selera dan karakter pemakainya. Bahkan, karena saking berharganya, batik gentongan tidak dipotong untuk pakaian. Tapi hanya hiasan, selendang dan sarung. Dan bahkan yang lebih ‘gaib’ lagi, batik gentongan hanya sebagai pusaka di rumah—lambang cinta pemiliknya kepada sesuatu yang dicintainya.

Merah: menyala, berani, dan sangar. Semua motif batik Madura, apapun warna dasarnya, ataupun warna yang dominan, tidak akan pernah menanggalkan warna merah. Entah pada bagian bunga, kelopak, atau kepala burung. Sudah pasti, motif batik Madura tidak akan menanggalkan warna merah meski hanya sedikit. Sebuah ciri khas, goresan merah dan warna-warna tajam nan menyala pada batik Madura—yang bisa dibandingkan dengan motif batik daerah lain.

Motif batik daerah lain, selain Madura tentunya, umumnya berwarna ‘kalem’—warna tidak menyala tapi bukan redup. Warna dasar yang ditonjolkan pun berwarna ‘kalem’, lembut, dan tidak tajam. Perpaduan warna antara yang satu dengan lainnya juga lembut—hampir selaras. Berbeda dengan batik Madura selalu menampilkan warna tajam: merah, kuning dan hijau-biru—menyala. Warna-warna itu kadang berselang-seling, berdiri sendiri-sendiri, satu dengan lainnya tak berhubungan sama sekali, dan mengobarkan ‘semangat’-nya sendiri-sendiri. meski kadang motif (gambar) dasarnya bersambung, tapi pewarnaan memiliki coraknya sendiri. Itulah Madura—sebuah simbol kemandirian.

Lebih unik lagi jika kita membicarakan warna merah yang selalu hadir di setiap motif batik, meskipun kadang kontras dengan warna dasarnya. Dalam banyak hal, warna merah sebagai simbol keberaniaan–yang oleh masyarakat Madura, tentunya juga oleh orang Indonesia pada umumnya—sebagai simbol nasionalisme. Sesumber orang Madura: ‘Selama merah menyala Indonesia tetap jaya’—sebagai bagian penting untuk menjawab kehadiran warna merah pada setiap motif batik.

Dalam psikologi, warna merah identik dengan gairah dan energi. Di dalam roh warna merah terkandung ‘semburan’ kuat yang mendorong energi dan menyerukan terlaksananya suatu tindakan. Ada gairah, action, kekuatan dan kegembiraan yang melekat pada inti ari warna merah. Dominasi warna merah mampu merangsang indra fisik seperti meningkatkan nafsu makan dan gairah seksual. Dan, itulah, mengapa orang Madura, khususnya para pembatik perempuan, tidak mengabaikan warna merah pada setiap motif batiknya.

Warna merah yang dipilih orang Madura, bukan simbol dari darah dan kematian—meskipun darah juga berwarna merah tapi tidak untuk melambangkan darah. Oleh karena itu, warna merah tidak dibiarkan menjadi dasar utama dari setiap motif batik. Jadi, jarang sekali, atau bahkan bisa dikatakan tidak pernah ada, batik dengan dasar warna merah. Warna merah pada motif batik Madura hanya sebagai pelengkap, atau setidaknya pencerah dari semua warna motif. Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan motif, warna merah cenderung dipadu dengan warna biru muda. Dipercaya, warna biru memberi efek menenangkan dan mampu mengatasi insomnia, kecemasan, tekanan darah tinggi dan migraine. Dan warna biru memberi kesan profesional dan kepercayaan.

Warna lain yang sering mendampingi warna merah—meski tidak selalu–adalah ‘kuning’. Kuning dipercaya memberi kehangatan, semangat, optimis dan riang. Dari sisi psikologi, warna kuning dapat merangsang aktivitas pikiran dan mental, membantu penalaran secara logis dan analitis, dan pemakainya lebih bijaksana dan cerdas. Maka, warna-warna dasar seringkali ditampilkan sebagai warna yang mandiri, dan maknanya tidak harus dihubungkan dengan warna lain.

Merah menyala, ketika berdampingan, atau di atas hamparan hitam akan lahir kesan elegan. Dan, perempuan pembatik itu akan setia dengan warna khas dari leluhurnya. Mereka menentukan sendiri warna-warna yang akan menghiasi motif batiknya. Mereka tidak pernah melupakan warna merah di setiap motif batiknya.

Mesin serba listrik dan diesel, mungkin lebih canggih dari pada pemintal tradisional–yang manual. Hasil produksinya pun jauh lebih tinggi. Tangan-tangan terampil (manual) tidak terlalu dibutuhkan—meskipun dibutuhkan tapi jumlahnya sedikit sekali. Sekali giling, atau dalam hitungan jam beroperasi, jumlah produksi bisa memenuhi jumlah pelanggan sekampung. Tapi, belakangan ini,  alat produksi yang tradisional mulai dirindukan. Dan, itulah yang terjadi pada batik di belahan Nusantara ini. Termasuk batik Madura. Batik tulis jauh lebih diminati dari pada batik cap, apalagi printing.

Kain untuk membatik tidak serta-merta dari pabrik, langsung dimotif dengan malam. Tapi harus melalui beberapa proses. Awalnya, kain melalui proses kettel. Pada proses ini, pembatik memberi larutan abu merang dicampur minyak camplong pada kain. Lamanya sekitar satu minggu. Ini dilakukan agar kain benar-benar muncul aura dan keasliannya. Dan, jika nantinya dimalam dan diwarnai, akan meresap ke dalam kain—lantaran lemak dan kotoran pada kain dasar itu hilang. Selanjutnya, kain diberi abu merang untuk menghilangkan minyak camplong, dan terus dicuci bersih.

Proses memberi tepung kanji pada kain agar malam mudah terlepas dari kain pada proses pelorotan merupakan proses sebelum memberi desain dan motif. Semua proses, sampai dengan pewarnaan dilakukan oleh perempuan. Dalam hal ini, kaum lelaki hanya membantu di bagian proses yang membutuhkan tenaga ekstra. Misalnya, pengapian pada katel ketika dicelup warna.

Motif batik Madura memiliki ciri khas tersendiri yang tidak serta-merta ada di tempat lain. Di antara motif itu adalah antang atau bunga teratai.  Rampaknya, mereka terinspirasi tumbuhan teratai yang mengapung di air. Latar hijau dengan bunga berwarna merah dan bagian pinggir coklat muda berwarna tanah. Ada kalanya pembatik yang memiliki keahlian khusus melukis teratai seakan hidup—dengan tiga dimensi. Batik seperti ini biasanya dipesan khusus dengan harga yang sesuai.

Motif ‘berras nompa’ (beras tumpah) seringkali mewarnai hampir seluruh motif batik—sebagai dasar dari kesuluruhan motif dalam selembar kain. Serinngkali motif itu dipadu dengan motif dahan berwarna hijau, dan bunga berwarna merah. Ada maksud dari perempuan pembatiknya: ‘berres nompa’ melambangkan larangan hidup berfoya-foya—larangan untuk orang yang tidak ikut merasakan sudahnya bertani. Lambang bagi petani sebagai rasa syukur, karena beras tumpah dianggap masa panen yang sukses. Motif yang tidak terlalu rumit tapi butuh ketelitian pembatiknya. Biasannya latar motif berwarna hitam atau gelap. Motif beras tumpah ini melambangkan suasana pertanian—larangan dan rasa syukur.

Motif sesse’ (sisik) melambangkan suasana nelayan. Di dalamnya terdapat motif tulang. Di dalamnya terdapat motif bunga berwarna merah—warna yang tak pernah ditanggalkan oleh pembatiknya. Jelas, banyak harapan dari nelayan: tangkapan yang banyak, dan suasana laut yang tenang.

Motif Daun, berada di atas background berwarna putih dan hitam dengan baris-baris gelombang. Di dalam baris putih terdapat daun berwarna hitam dengan bunga merah. Dalam baris hitam terdapat daun berwarna putih berserakan. Terinspirasi dari daun di sekitar. Menunjukkan bahwa perempuan pembatik juga menjaga keasrian lingkungan, keasrian tumbuhan hidup yang ada di sekitar lingkungan mereka.

Motif batik Madura beragam. Ada motif liris, bunga, serat kayu, dan sebagainya.  Motif liris dilukis di atas kain berwarna hitam dan putih sejajar membentang lurus sehingga berbentuk belang-belang dengan hiasan bunga berwarna merah. Motif liris melambangkan dua sisi kehidupan yakni gelap dan terang. Sedangkan motif bunga di atas kain bermotif hitam dengan bintik-bintik berwarna merah dihiasi bunga merah dengan kelopak kuning dan merah disertai tangkai berupa garis putih putus-putus. Background hitam dengan bintik-bintik berwarna merah dihiasi bunga merah dengan kelopak kuning dan merah disertai tangkai berupa garis putih putus-putus. Background sisik dengan garis merah dan kuning dihiasi bunga berwarna putih.

Perempuan Pembatik Madura, bukan sebuah legenda, yang ceritanya hanya bisa dikenang. Tapi, sejak dulu sampai kini, batik Madura dikerjakan oleh tangan-tangan lentik perempuan Madura. Di tengah menunggu suami melaut, atau menggarap ladang, di situlah muncul ide-ide kreatif para perajin melakukan kegiatannya: membatik—kecuali batik gentongan.

Hampir pasti, campur tangan laki-laki hanya pada pekerjaan ‘kasar’, yang tidak membutuhkan tangan-tangan kreatif dan teliti. Dan, ketika Pemerintah memberdayakan perempuan, maka perempuan Madura telah berdaya dengan hasil kreasinya di seni batik.

Komentar